Jumat, 25 Februari 2011

Sejarah Raden Patah

Raden Patah


Raden Patah adalah putra Brawijaya raja terakhir Majapahit dari seorang selir Cina. Karena Ratu Dwarawati sang permaisuri yang berasal dari Campa merasa cemburu, Brawijaya terpaksa memberikan selir Cina kepada putra sulungnya, yaitu Arya Damar bupati Palembang. Tapi pada saat itu selir Cina sedang hamil, Setelah melahirkan Raden Patah, putri Cina dinikahi Arya Damar, melahirkan Raden Kusen. Nama asli Raden Patah adalah Jin Bun. Arya Dilah adalah nama lain Arya Damar, ayah angkat Raden Patah sendiri. Nama asli selir Cina adalah Siu Ban Ci, putri Tan Go Hwat dan Siu Te Yo dari Gresik. Tan Go Hwat merupakan seorang saudagar dan juga ulama bergelar Syaikh Bantong.

Raden Patah Mendirikan Demak

Babad Tanah Jawi menyebutkan, Raden Patah menolak menggantikan Arya Damar menjadi bupati Palembang. Ia kabur ke pulau Jawa ditemani Raden Kusen. Sesampainya di Jawa, keduanya berguru pada Sunan Ampel di Surabaya. Raden Kusen kemudian mengabdi ke Majapahit, sedangkan Raden Patah pindah ke Jawa Tengah membuka hutan Glagahwangi menjadi sebuah pesantren. Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Brawijaya di Majapahit khawatir kalau Raden Patah berniat memberontak. Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah.

Raden Kusen menghadapkan Raden Patah ke Majapahit. Brawijaya merasa terkesan dan akhirnya mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara. Nama Demak sendiri diambil dari bahasa Jawa yaitu “Demek” yang artinya tanah becek, karena pada saat itu Glagah Wangi dibangun diatas tanah yang becek atau berair.

Perang Demak dan Majapahit

Perang antara Demak dan Majapahit diberitakan dalam naskah Babad Tanah Jawi. Dikisahkan, Sunan Ampel melarang Raden Patah memberontak pada Majapahit karena meskipun berbeda agama, Brawijaya tetaplah ayah Raden Patah. Namun sepeninggal Sunan Ampel, Raden Patah tetap menyerang Majapahit. Brawijaya moksa dalam serangan itu. Untuk menetralisasi pengaruh agama lama, Sunan Giri menduduki takhta Majapahit selama 40 hari. Apakah Raden Patah pernah menyerang Majapahit atau tidak, yang jelas ia adalah raja pertama Kesultanan Demak. Menurut Babad Tanah Jawi, ia bergelar Senapati Jimbun Ningrat Ngabdurahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama/ Sultan Syah Alam Akbar/ Sultan Surya Alam. Nama Patah sendiri berasal dari kata al-Fatah, yang artinya "Sang Pembuka", karena ia memang pembuka kerajaan Islam pertama di pulau Jawa.

Pada tahun 1479 ia meresmikan Masjid Agung Demak sebagi pusat pemerintahan. Ia juga memperkenalkan pemakaian Salokantara sebagai kitab undang-undang kerajaan. Kepada umat beragama lain, sikap Raden Patah sangat toleran. Kuil Sam Po Kong di Semarang tidak dipaksa kembali menjadi masjid, sebagaimana dulu saat didirikan oleh Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam.

Raden Patah juga tidak mau memerangi umat Hindu dan Buddha sebagaimana wasiat Sunan Ampel, gurunya. Meskipun naskah babad dan serat memberitakan ia menyerang Majapahit, hal itu dilatarbelakangi persaingan politik memperebutkan kekuasaan pulau Jawa, bukan karena sentimen agama. Lagi pula, naskah babad dan serat juga memberitakan kalau pihak Majapahit lebih dulu menyerang Giri Kedaton, sekutu Demak di Gresik.
Keturunan Raden Patah

Menurut naskah babad tanah Jawa, Raden Patah memiliki tiga orang istri. Yang pertama adalah putri Sunan Ampel, menjadi permaisuri utama, melahirkan Raden Surya dan Raden Trenggana, yang masing-masing secara berurutan kemudian naik takhta, bergelar Pangeran Sabrang Lor dan Sultan Trenggana. Istri yang kedua seorang putri dari Randu Sanga, melahirkan Raden Kanduruwan. Raden Kanduruwan ini pada pemerintahan Sultan Trenggana berjasa menaklukkan Sumenep. Istri yang ketiga adalah putri bupati Jipang, melahirkan Raden Kikin dan Ratu Mas Nyawa. Ketika Raden Patah meninggal, Raden Kikin dan Raden Trenggana bersaing memperebutkan takhta. Raden Kikin akhirnya mati dibunuh putra sulung Raden Trenggana yang bernama Raden Mukmin alias Sunan Prawata, di tepi sungai. Oleh karena itu, Raden Kikin pun dijuluki Pangeran Sekar Seda ing Lepen, artinya bunga yang gugur di sungai.

6 komentar:

  1. subhanallah....

    besar nya jiwa raden patah....
    ia selain sebagai pahlawan ia juga sunan...

    BalasHapus
  2. Biarkanlah SEJARAH mnjadi LEGENDA,,,,, dn biarkanlah SEBUAH KISAH menjadi CERITA,,,, krna ni adlah warisan untk ANAK & CUCU,,,,

    BalasHapus
  3. Yang menarik dari kisah ini adalah kelahiran Raden Patah (Jin Bun), putra dari Prabhu Kertabhumi (Raden Brawijaya) dengan putri Cina yaitu Darawati. Babah Ban Tong (Ban Hong) berpendapat bahwa anak perempuannya pantas menjadi selir raja. Ketika selir ini hamil tua dia dihadiahkan kepada Swan Liong di Kukang, dengan pesan bahwa Swan Liong bisa berhubungan dengannya apabila sudah melahirkan. Maka terlahirlah Raden Kusen (Husein) saudara tiri Jin Bun (Raden Patah) dan mereka dibesarkan bersama. Ketika berumur 18 tahun dengan diam-diam mereka pergi ke jawa. Kusen mengabdi kepada raja Majapahit dan diangkat menjadi Adipati Terung. Sedangkan Jin Bun menolak ajakan adiknya dengan kata-kata termashur yang dimuat dalam Babad Tanah Jawi : “Saya sudah terlanjur memeluk agama islam. Menurut keyakinan saya itulah agama yang baik. Sayang ke-islaman saya jika harus mengabdi kepada raja Majapahit yang kafir (padahal raja itu adalah Ayahnya sendiri).
    Jin Bun berguru kepada Bong Swi Hoo dan kemudian membuka hutan belantara di Bintara (Bing Tolo, Demak). Mari kita lihat apa yang dikatakan Prof. Slamet Mulyono (Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara Islam di Nusantara, Bharatara 1968) : “Pembukaan hutan Bintara oleh Jin Bun yang pada hakekatnya adalah persiapan untuk merobohkan kekuasaan Majapahit, karena dia memperoleh gelar pangeran dan pengakuan resmi dari raja untuk mengerjakan pembukaan hutan sehingga tidak ada orang yang mencurigai pekerjaan itu tersebut”.
    Perbuatan Jin Bun itu pada hakekatnya adalah sebuah kegitan rahasia untuk melawan Majapahit. Swan Liong dan Jin Bun sebagai peranakan Cina-Jawa meskipun mereka putra Majapahit hanya bekerja demi kepentingan masyarakat Cina-Islam, paadahal mereka tidak ada kebanggan sama sekali dengan ke-Jawa-annya. Selama 3 tahun dia berhasil membuka hutan Bing Tolo dan mengumpulkan pengikut lebih dari 1000 orang yang telah dijiwai fanatisme agama. Kekuatan ini cukup untuk menguasai kota Semarang (1447) dari orang Cina non islam.
    Saatnya tiba ketika Bong Swi Hoo meninggal (1478), karena gurunya ini adalah penghalang terakhir dari niat Jin Bun untuk menyerbu Majapahit. Majapahit diserbu secara tiba-tiba dan raja Kertabhumi (Raden Brawijaya) yang tidak membuat persiapan apa-apa akhirnya ditawan dan dibawa ke Demak. Seperti penuturan Prof. Slamet, “kota Majapahit tidak mengalami kerusakan apapun, seolah-plah tidak terjadi apa-apa. Kerajaan yang remuk dari dalam dan rusak ekonomi, ahlak yang merosot, secara mendakak ditekan dari luar sehingga tidak sanggup mengadakan perlawanan.
    Setelah dikatakan demikian Majapahit runtuh, akhirnya raja baru Nyoo Lay Wa diangkat oleh Jin Bun akan tetapi 6 tahun kemudian orang ini terbunuh oleh rakyat dan akhirnya digantikan oleh Girindrawardhana Dyah Ranawijaya, ipar Jin Bun). Raja terakhir ini pun akhirnya diserbu oleh laskar demak di bawah pimpinan Sunan Kudus karena diketahui berhubungan secara rahasia dengan musuh bebuyutan demak yaitu orang portugis. Habislah Majapahit tahun 1527 M. Misi Cheng Ho yang telah dipaparkan sebelumnya dengan jitu telah direalisasikan oleh Jin Bun (Raden Patah).
    Kita mendapat pelajaran yang begitu berharga dari runtuhnya sebuah peradaban Hindu di tanah Jawa yang dulunya pernah mengalami puncak kejayaan. Namun berakhir di tangan garis keturunannya sendiri akibat dari fanatisme buta terhadap sebuah doktrin, namun terlepas dari itu faktor terpenting dari runtuhya Majapahit adalah nilai-nilai yang dulunya pernah dipegang teguh telah sirna, pun karena pemimpin yang tidak menyiapkan penerus untuk melanjutkan visi kerajaan. Tanpa ada niat dari penulis untuk membuka luka lama, marilah kita berpikir sejenak bahwa perbedaan prinsip selalu menyisakan ruang terjadinya saling ketidakpercayaan.

    BalasHapus